Janji, Padamu

Ando Izanami ― Ardoursx.

Pip.

“Hey!”

“Hm?”

“Sedang apa?”

“Mengerjakan tugas.”

“Tugas apa?”

“Tentu saja kuliah.”

“Maksudku, melakukan apa?”

“Oh. Menggambar.”

“Wah! Boleh kulihat gambarmu?”

“Tidak.”

“Ahh, sekali ini saja!”

“Tidak mau.”

“Ryo-kun~”

“Lagipula belum selesai.”

“Tidak masalah!”

“Tidak.”

“Ryo-kun, aku memohon padamu!”

“Dan aku tidak mengiyakan permohonanmu.”

Gerutuan pun terdengar. “Kau selalu tidak mau memperlihatkan hasil gambarmu! Memangnya kau takut akan ditertawakan?”

“Tidak.”

“Lalu~? Biarkan aku melihatnya!”

“Nanti rusak olehmu.”

“Bertemu secara langsung saja tidak! Mana mungkin aku bisa merusaknya?” Memajukan bibirnya.

“Merusak hatiku, misalnya?”

Kerutan muncul. “Hatimu, bagaimana?”

“Memberikan kritik pedas, misalnya?”

“Tidak mungkin! Aku gadis baik!”

“Tidak percaya.”

“Ahh, kau jahat sekali, Ryo-kun!”

“Kau baru mengetahuinya?”

“Rasanya aku ingin mencubitmu saat kita bertemu!”

“Sayangnya kita tidak bertemu.”

“Hmm..” terdengar gumaman sedih dari sang gadis. “Kau kapan kembali ke Tokyo?”

“Tidak tahu. Tugas menanti di sini.”

“… Kau sibuk sekali, ya?”

“Memangnya kenapa? Kau rindu padaku?”

“Bukan begitu-!”

“Sudah kuduga.”

“Ryo-kuunn!!”

“Apa?”

“Kau masih saja menyebalkan!”

“Bukan masalah, kan?”

“Iya, sih…”

“Hm. Bagaimana kabarmu di Tokyo?”

“Aku baik! Aku masih aktif di klub tempatmu dulu~”

“Art?”

“Ya!”

“Memangnya kau suka?”

“Tidak terlalu, sih- Tapi bukannya dulu kau yang memaksaku untuk masuk klub itu?!”

“Iya, aku tahu. Aku kira kau masuk hanya karena ada aku di sana.”

“Kau terlalu percaya diri!”

“Loh, memang benar, kan?”

“…”

“Jadi, kau masih di sana?”

“Yap, masih!”

“Aku kira kau sudah keluar.”

“Tidak, dong, hehe~”

“Bagus kalau begitu.”

Jeda beberapa menit.

“Ryo-kun?”

“Hm?”

“Aku merindukanmu…”

“Aku juga.”

“Kau kapan pulang?”

“Sudah kubilang, tugas menanti.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku!”

“Jadi kau mau aku menjawab apa?”

“Yaa misalnya, besok, atau minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau apa! Jawaban pasti, maksudku!”

“Hmm, tidak tahu.”

“Loh? Kau tidak rindu rumah?!”

“Rindu.”

“Kalau begitu, cepat balik.”

“Aku sedang mengerjakan tugas besar di sini dan sedang pada tahap sibuk-sibuknya. Aku belum bisa memperkirakan kapan aku bisa pulang.”

“Hah… membuat khawatir saja.”

“Kau? Khawatir?”

“Tentu saja!”

“…”

“Ryo-kun?”

“Apa?”

“Kau pasti akan pulang, kan?”

“Mungkin?”

“Kalau begitu, berjanjilah padaku, bahwa kau akan pulang.”

“Nami-”

“Berjanjilah!”

“Iya, iya, aku berjanji.”

Tersenyum. “Aku tunggu kehadiranmu di Tokyo!”

“Ya.”

“Oh, jika kau akan kembali, aku orang pertama yang harus kau hubungi!”

“Pemaksaan.”

“Memang!”

Tersenyum kecil. “Ya, akan kupastikan.”

“Hehe, bagus!”

“Sudah selesai? Aku harus kembali bekerja.”

“Um! Jaga dirimu baik-baik, Ryo-kun~”

“Kau juga, Izanami.”

Hening sesaat.

Aku mencintaimu.” Pernyataan bersamaan terdengar sebelum kedua insan itu mematikan telepon.

*

Urenishzu / 3 Desember 2017 / 15.13 WIB.

#SoulscapeDecember2017 #SoulscapeDay2 #SoulscapeDay3

Advertisements

#Noctober2017 – Menunggu

Pip!

Lampu jalan di sebelahku pun mulai menyala.

Aku menengadahkan kepala sambil menyibak poniku yang menutupi rambut akibat terlalu banyak menunduk. Sambil menaikkan kacamataku yang merosot, bola mataku bergerak dari kanan ke kiri. Saat ini, aku menangkap keadaan di sekitar yang sudah sepi, langit yang semakin mendung, dan tidak ada lagi kehadiran matahari. Aku pun menyimpulkan bahwa hari sudah malam.

“Sudah malam,” gumamku. “Harusnya dia tidak membiarkanku menunggu hingga malam.”

Kami—aku dan dia—berencana untuk makan malam di suatu tempat yang aku tidak tahu, tentunya. Ia sendiri berkata bahwa makan malam kali ini lebih spesial dari dua acara makan malam sebelumnya. Saat itu aku hanya mengiyakan saja, cukup senang karena ia sempat memikirkan hal-hal semacam ini di tengah kuliahnya yang cukup hectic—setidaknya itu yang aku tahu.

Aku menatap buku yang terbuka di atas telapak tangan. Aku berniat untuk melanjutkan  bacaanku sampai dia datang untuk menjemputku. Hanya saja, ada sesuatu yang menjanggal di hatiku.

Hari sudah malam, keadaan sudah sepi,  aku seorang diri, dan aku seorang perempuan. Hal pertama yang kupikirkan saat ini adalah, ketidakamanan.

Banyak orang berkata bahwa seorang perempuan tidak dianjurkan untuk berada di luar rumah seorang diri pada malam hari. Ya, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Bahkan, untuk seorang gadis sepertiku, aku juga menyetujuinya. Sangat menyetujuinya.

Tapi, bagaimana jika ada seorang gadis dalam posisi seorang diri, di luar rumah, pada malam hari, sedang menunggu seseorang, dan tidak bisa pergi kemanapun walau dipaksa?

Contohnya aku. Well, walaupun aku bisa saja mencari tempat yang lebih aman untuk menunggu kedatangannya, cafe misalnya.

Sayangnya, aku tidak dapat menemukan tanda adanya cafe di sekitarku. Tampaknya, lingkungan yang kutempati saat ini adalah lingkungan rumah, dimana orang-orang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam rumah ketimbang bermain di jalanan. Lagipula, kami sudah memiliki janji untuk bertemu di sini, di bawah lampu jalan yang sedang aku tempati. Mana mungkin aku membiarkan ia mencariku apabila aku benar-benar memutuskan untuk mencari tempat yang aman?

Tidak terasa, langit semakin gelap. Lampu jalan semakin terlihat wujudnya, bahkan yang berjarak seratus meter dari tempatku berada. Namun, batang hidungnya belum kunjung kulihat. Kemanakah dia?

Apa yang harus kulakukan? Diam saja, berpura-pura tidak merasa takut? Eh, sejujurnya aku tidak takut. Aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk yang kebetulan menjanggal di hatiku. Itu saja. Tidak takut, kok, tidak.

Aku menutup buku yang sejak tadi kupegang dan memasukkannya ke dalam tas pemberiannya. Ya, aku sengaja memakainya hari ini untuk membuat kejutan yang sama untuknya. Bukan hanya dia yang bisa membuat kejutan, kan?

Tap, tap, tap.

Seketika, aku menoleh ke belakang. Rasanya aku mendengar sesuatu, seperti suara sepatu.

Tap, tap, tap.

Aku yakin aku mendengar suara, dan suaranya berasal dari belakang. Suara itu semakin lama semakin jelas, hingga aku merasa bahwa suara itu menghampiriku.

Tep.

Dan seketika sebuah tangan menepuk pundakku.

“AAAARRGGHHHHH!”

Dan seketika suaraku menggelegar. Ah, bukan menggelegar, sih, rasanya terlalu berlebihan.

“Eh, aku bukan bermaksud mengagetkanmu! Aku bukan orang jahat!”  ucapmu yang berada di belakangku—sambil menurunkan tangan.

Aku menjauh dari sosok tersebut dan memeluk lampu jalan sebagai perlindungan.

“Kau siapa?” Aku bertanya dengan cukup pelan. Aku yakin, itu bukan dia. Dia tidak akan mengagetkanku seperti itu. Dia juga tidak akan berkata seperti itu. Dan dia, tidak bersuara seperti itu.

“Justru aku yang seharusnya bertanya. Kau siapa? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyamu sambil mengangkat salah satu alis tebalmu yang semakin lama semakin terlihat jelas oleh penglihatanku.

“Aku…” aku terdiam sejenak. “Sedang menunggu seseorang.”

“Oh, pacarmu?” kau bertanya kembali.

“Hmm.”

“Sudah kuduga.” Tiba-tiba, kau tersenyum lebar hingga deretan gigi putihmu terlihat.

“Apa maksud perkataanmu?”

“Ah, tidak, tidak. Aku hanya berkomentar,” jawabmu diikuti kekehan ringan. “Lalu, dimanakah pacarmu itu?”

“Tentu saja dia belum ada di sini, aku sedang menunggunya,” ujarku. Kau mengerutkan alis.

“Tega sekali pacarmu meninggalkanmu sendirian di lampu jalan,” komentarmu. “Kau tidak kedinginan?”

“Apa?” Aku ikut mengerutkan alis, tidak paham dengan pertanyaanmu yang melantur kemana-mana.

“Kau tidak kedinginan?”

“… sedikit.” Ya, semakin lama udara semakin dingin, mengalahkan kehangatan gaun krem sederhanaku yang sedang kupakai.

Tanpa berbicara apapun, kamu melepas jaket jeansmu lalu memakaikannya padaku. “Sekarang bagaimana?”

Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa selain memberikan anggukan tanda terima kasih padamu.

Kami terdiam cukup lama di bawah sinar lampu jalan yang kupeluk sebelumnya. Kami berhadapan satu sama lain tanpa berkata apa pun, saling melempar pandangan, kemudian menunduk karena merasa diperhatikan.

Saat aku mengangkat kepala untuk menatapnya, kamu sudah mengangkat kepala lebih dulu.

“Kamu…”

Tin tin!

Suara klakson mobil terdengar, membuatku menolehkan kepala ke arah jalan, disusul dengan tolehan kepalamu.

“Hai.” Jendela mobil terbuka dan kulihat dia di dalam mobil sambil tersenyum hangat kepadaku. “Ayo, masuk.”

“Ah…” senyumku seketika mengembang melihat kedatangannya. Sontak aku melepas jaket jeans milikmu lalu mengembalikannya padamu. “Terima kasih, aku duluan. Senang bertemu denganmu.”

Di sanalah aku melihat senyummu sambil melambaikan tangan padaku sampai mobil melaju.

*

Cerita tentang aku, kamu, dan dia.

Urenishzu / 1 Oktober 2017 / 16.40 WIB.

#Noctober2017 #Noctober2017Day01

#MGB – Berbeda

Apa yang kalian rasakan ketika kalian merasa berbeda?
Berbeda secara apa ya–aku juga tidak tahu.

Pokoknya, jika kalian merasa berbeda, maka kalian sama sepertiku.

Ya, sejujurnya aku tidak merasa sepenuhnya berbeda, sih. Hanya saja, aku merasa semua orang menganggapku berbeda.

Terkadang, ketika orang lain mengklaim seseorang akan sesuatu, seseorang itu cepat atau lambat akan mengiyakan klaim orang lain tersebut. Ataupun kalau tidak, mereka akan memikirkannya–setidaknya.

Aku tidak yakin mengenai kalian, terutama jika kalian mempunyai pendirian masing-masing yang kurasa itu bagus. Tentu saja. Siapa yang berkata itu tidak bagus?

Namun, untuk orang sepertiku, seorang gadis–oh, bukan, seorang wanita berumur 20 tahun yang introvert, hal itu sangat mempengaruhiku.

Sejujurnya aku masih kurang paham akan kata pendirian itu. Aku sendiri tidak tahu apa aku sudah memiliki pendirian atau tidak. Lagipula, pendirian itu apa? Apa alasanku menggunakan kata tersebut secara seenaknya?

Kalau berdasarkan pendapatku, pendirian itu ketika seseorang sudah memiliki prinsip di dalam hidupnya. Ketika mereka tahu, apa yang baik untuk mereka dan apa yang tidak. Ketika mereka tahu, apa yang sebaiknya mereka terima dan apa yang tidak. Ketika mereka tahu bahwa tidak semua hal di dunia ini harus dituruti.

Sayangnya, aku berkebalikan dari itu semua.

Well, apa artinya aku tidak memiliki pendirian?

Jika memang itu kenyataannya, lalu apa karena pendirian itu aku dianggap berbeda?

Memangnya hanya aku seorang di dunia ini yang tidak memiliki pendirian?

Kalau memang seperti itu kenyataannya, aku akan mengajukan tuntutan.

Kalian semua bodoh jika menganggapku berbeda.

Jika hanya aku seorang yang tidak memiliki pendirian di dunia ini, maka seharusnya kata uniklah yang paling tepat dalam mendeskripsikan diriku, ketimbang kata berbeda–yang semakin lama semakin membuatku kesal setengah mati.

Sependiamnya aku, tidak berarti aku tidak bisa melawan.

Bahkan aku bisa merasakan tulisanku yang menggambarkan hatiku saat ini menggebu-gebu.

Awas saja, kalian! Berani-beraninya mengatakan aku berbeda!

Pfft- rasanya lucu melihatku menggunakan tanda seru ketika penggunaannya bisa kuhitung dengan jari.

Ah, aku masih memikirkan alasan aku dianggap berbeda.

Introvert things, kah? Kutu buku, kah? Dingin, kah?

Jika memang karena ketiga hal itu, mengapa tidak katakan saja secara langsung?

Memang bodoh. Lama-lama aku kesal. Untung aku sedang dalam mood yang cukup baik.

Lagipula aku memang jarang sekali marah, sih, jadi tidak akan kuluapkan begitu saja.

Lebih baik bergelut dengan buku ketimbang harus berkomat-kamit dengan kata-kata absurd.

Intinya, (akhirnya aku mencapai inti!) aku tidak berbeda.

Jika kalian merasa aku berbeda, maka katakanlah padaku.

Jika kalian tidak merasa berbeda, maka anggaplah aku seseorang unik. Jangan selalu berpikiran negatif akan sesuatu, selain membuat diri kalian cemas, hal itu bisa membuat orang lain sakit hati juga, tahu.

Pokoknya, aku unik.

Eh, bukan.

Minerva unik. Titik!
Minerva G. B. / 22.03 PM.

Hilang Pikiran

Aku tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi padaku kelak, setelah aku menyelesaikan tulisanku ini.

Tapi toh, aku tidak peduli. Jika aku bisa menikmatinya, mengapa aku harus memikirkan kejadian selanjutnya?

Di tengah kesibukan ini—yang sebenarnya tidak sibuk sama sekali jika dibandingkan dengan orang-orang yang berumur lebih dariku—akhirnya aku kembali menyempatkan diri untuk menulis sesuatu, entah apa, agar setidaknya aku bisa me-refresh­ kembali pikiranku yang sempat kabur entah kemana selama satu bulan lebih.

Sebenarnya, aku agak menyesali diriku sendiri. Mengapa? Jujur saja, aku sudah membuat peraturan untuk diriku sendiri. Tidak banyak, namun cukup menyulitkan karena salah satunya adalah konsisten untuk menulis setiap hari. Well, tidak perlu berharap banyak, setidaknya aku bisa mem-posting one of my thoughts di blog yang sempat usang ini. Tapi, aku tahu konsisten itu tidak mudah, terutama jika dirimu tidak mendapatkan motivasi.

Boleh jujur? Aku agak kesal dengan gaya menulisku hari ini.

Tujuanku menulis hari ini selain untuk menghidupkan kembali blogku, salah satunya, aku ingin mencurahkan sesuatu. Sesuatu yang baru terjadi, sebut saja kemarin, tanggal 10 Agustus. Bertepatan dengan hari ulang tahunku.

Sebut saja, kemarin adalah salah satu hari ulang tahun terburukku. Aku benci ketika aku berhadapan dengan hari yang kutunggu-tunggu, aku justru merusaknya. Ya, aku menangis. Menangis, benar-benar menangis.

Tidak tahu apa yang tengah terjadi padaku, tapi rasanya pikiranku tidak bisa berpikir jernih. Otakku tampak seperti dipengaruhi oleh awan-awan hitam yang memperburuk suasana otakku, hingga ia memberi respon pada hatiku untuk menangis.

Jika kalian berpikir aku menangis karena ulang tahun yang kuharapkan tidak sebaik dengan yang kubayangkan, kalian salah. Justru aku salah satu orang yang melupakan hari ulang tahunku, tepat sehari sebelumnya.

Kemarin, rasanya banyak sekali hal yang datang bersamaan di saat kondisiku sedang kurang baik. Aku dapat merasakan tubuhku yang agak melemah, lelah, merujuk untuk diistirahatkan. Namun, di saat yang sama, aku merasakan pikiranku bepergian secara terpisah ke berbagai arah. Ketika hal itu terjadi, rasanya semua hal yang ada menubrukku secara bersamaan hingga aku tidak tahu cara untuk menghadapinya. Lalu, apa yang kulakukan? Tentu saja, apalagi kalau bukan menangis?

Aku tahu, banyak orang yang pernah mengalami hal seperti ini. Sebenarnya, aku sama sekali tidak menyesali perbuatanku menangis semalaman hingga mataku bengkak dan flu yang semakin menjadi, namun aku sangat kesal ketika hal tersebut kulakukan berdekatan atau bahkan bertepatan dengan hari ulang tahunku. I just feel so unworthy.

Tapi, memang, sih, setelahnya aku merasakan kelegaan yang tiada tara. Aku bisa tidur nyenyak, beban di pikiranku berkurang, dan tubuhku bisa beristirahat dengan tenang.

Menangis itu memang tidak selamanya buruk, ya?

Aside

Kosong

Kita tahu bahwa sebuah kertas putih polos tanpa goresan tinta adalah kosong.

Kita tahu bahwa sebuah kotak tanpa isi adalah kosong.

Kita tahu bahwa sebuah rumah yang tidak menyimpan perabotan adalah kosong.

Tapi, apakah berarti kosong itu tidak ada artinya?

Kurasa semua orang memiliki jawaban yang berbeda-beda antara ‘ya’, ‘tidak’, atau bahkan ‘bisa jadi’.

Dan kurasa ada beberapa orang yang memilih untuk tidak menjawabnya, entah karena mereka tidak tahu jawabannya, ataupun ragu akan jawaban masing-masing.

 

Jika kalian tanya pendapatku,

Kurasa kosong memiliki arti yang tidak semua orang bisa melihatnya.

Kurasa, semua hal yang hadir di dunia ini memiliki arti. Mereka mempunyai maksud dan alasan mereka bisa hadir di muka bumi, memberikan manfaat maupun kerugian bagi lingkungan sekitarnya. Tergantung bagaimana cara kita memandang dan menyikapinya.

Entah apa artinya, jika kalian bertanya, aku belum bisa menjawab.

 

Namun jika aku menjadi kalian, tentunya aku juga penasaran.

Dan aku menolak untuk menjawabnya sendiri tanpa mendengar pendapat orang lain.

Jadi menurut kalian, apakah kosong memiliki arti?

Kata Pertama

Entah sudah berapa kali aku menulis di blog—bukan blog ini yang aku maksud, tentunya—tapi entah kenapa aku selalu dibingungkan dengan kata pertama yang harus aku pakai sebagai sambutan dalam sebuah post. Entah sudah berapa kali juga aku memusingkan hal ini dalam setiap postinganku. Sayangnya, kali ini aku kembali dipusingkan olehnya.

Pernah tidak, sih, kalian pikirkan? Pernah tidak, kalian mempunyai pikiran yang sama sepertiku? Karena menurutku, kata pertama yang muncul dan akan terbaca itu penting. Tidak sembarang kata bisa dimasukkan dan bisa cocok untuk digunakan. Kata pertama sebagai first impression—setidaknya itulah yang aku pikirkan. Jika first impression saja sudah rendah, bagaimana sebuah postingan dapat dibaca hingga akhir kata? Bagaimana postingan tersebut dapat dibaca, dikenal, dikagumi, bahkan dicintai oleh pembacanya? Useless. Lalu, untuk apa kita menulis panjang lebar, namun tidak ada yang membaca?

Ah, sudahlah. Pikiranku terlalu jauh untuk dibahas, dan akan sangat memusingkan.

Sejujurnya, banyak—bahkan sangat banyak—kata yang berkelebat di benakku, menyerangku tanpa henti. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menuangkannya. Entah kenapa, aku tidak bisa memasukkan mereka ke sini. Dan entah kenapa, aku enggan memasukkan mereka ke dalam sini.

Sejujurnya lagi, kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali, dua kali, atau bahkan tiga kali. Kejadian ini sudah terlalu sering terjadi hingga aku sendiri tidak dapat menghitungnya.

Mungkin, hal itulah yang membuatku meninggalkan dunia ini selama bertahun-tahun? Dunia yang kata orang-orang tidak semua bisa menikmatinya, tidak semua bisa merasakannya, dan tidak semua bisa melakukannya. Bahkan, menurut mereka, sulit sekali menemukan kata-kata untuk menggambarkan apa yang ada dalam benak mereka. Karena itu pun, sulit sekali menemukan orang-orang yang sangat menekuni bidang ini.

Well, walau pada kenyataannya tidak sesulit yang dibayangkan, sih. Lihat saja, ada berapa banyak blog yang dibuat dalam satu hari di dunia ini? Atau- ada berapa banyak buku yang dijual dalam sebuah toko buku? Bukankah tiap buku yang berbeda itu memiliki penulis yang berbeda pula? Kalau begitu, ada banyak orang-orang yang sangat menekuni bidang ini.

Jangan pandang terlalu jauh. Di sekelilingku pun banyak, banyak sekali.

Dan dulu aku merasa bahwa aku adalah satu diantara orang-orang tersebut.

Namun sekarang, tidak. Walau aku kembali memimpikannya.

Dan karena itulah, aku kembali menulis. Di sini. Di blog ini. Di blog usang ini.

Entah kapan terakhir kali aku membuka blog ini. Tapi tentunya, aku tidak menyesali perbuatanku. Aku tidak membutuhkan alasan mengapa dulu aku membuat blog ini, dan mengapa akhirnya aku diamkan dia selama beberapa tahun.

Walaupun aku yakin, semuanya memiliki alasan.

Namun, kali ini aku tidak membutuhkannya.

Karena aku akan membiarkannya, dan akan kembali menuntun diriku.

Karena kurasa, aku sudah menemukan jawabannya.

Bahwa aku, diperintahkan untuk kembali menulis.

Seperti dulu.