Mereka, Setengah Dariku

Ketika aku sempat merasa bahwa passionku bukan dalam bidang menulis.

Ketika aku merasa bahwa selama ini aku mengambil keputusan yang salah.

Ketika aku selalu berucap kebohongan setiap kali ada yang bertanya, “Hobimu apa?” “Apa cita-citamu?” yang kemudian kubalas dengan entengnya, “Menulis.”

Yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya akan berakibat seperti apa ke depannya nanti.

Kemudian, aku mulai merenung.

Memikirkan jawaban entengku kembali.

Menulis. Bukan hanya sekedar menulis, namun menuangkan segala pikiran dan jiwamu ke dalam sebuah tulisan, yang nantinya dapat mengubahmu sepenuhnya.

Sebuah tulisan yang menggambarkan, this is a real me.

Tulisan yang mengatakan, “Ini kamu!”

Bahwa memang aku yang menulisnya. Memang aku yang berada di sana. Identitasku terpampang di tulisanku.

Namun rasanya, menulis bukan sesuatu yang kau kira mudah. Awalnya aku pun begitu.

Semakin lama, menulis semakin menyulitkanku.

Tiap kali aku melihat Microsoft Word terpampang, pikiranku buyar.

Aku tidak tahu apa yang harus kutulis.

Semuanya berubah.

Tampaknya aku memang tidak diizinkan untuk menulis.

Kalau memang pada kenyataannya seperti itu, apakah aku memang sebaiknya berhenti?

Atau… aku masih harus berjuang untuk mengembalikan keinginanku dalam menulis?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s