Hilang Pikiran

Aku tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi padaku kelak, setelah aku menyelesaikan tulisanku ini.

Tapi toh, aku tidak peduli. Jika aku bisa menikmatinya, mengapa aku harus memikirkan kejadian selanjutnya?

Di tengah kesibukan ini—yang sebenarnya tidak sibuk sama sekali jika dibandingkan dengan orang-orang yang berumur lebih dariku—akhirnya aku kembali menyempatkan diri untuk menulis sesuatu, entah apa, agar setidaknya aku bisa me-refresh­ kembali pikiranku yang sempat kabur entah kemana selama satu bulan lebih.

Sebenarnya, aku agak menyesali diriku sendiri. Mengapa? Jujur saja, aku sudah membuat peraturan untuk diriku sendiri. Tidak banyak, namun cukup menyulitkan karena salah satunya adalah konsisten untuk menulis setiap hari. Well, tidak perlu berharap banyak, setidaknya aku bisa mem-posting one of my thoughts di blog yang sempat usang ini. Tapi, aku tahu konsisten itu tidak mudah, terutama jika dirimu tidak mendapatkan motivasi.

Boleh jujur? Aku agak kesal dengan gaya menulisku hari ini.

Tujuanku menulis hari ini selain untuk menghidupkan kembali blogku, salah satunya, aku ingin mencurahkan sesuatu. Sesuatu yang baru terjadi, sebut saja kemarin, tanggal 10 Agustus. Bertepatan dengan hari ulang tahunku.

Sebut saja, kemarin adalah salah satu hari ulang tahun terburukku. Aku benci ketika aku berhadapan dengan hari yang kutunggu-tunggu, aku justru merusaknya. Ya, aku menangis. Menangis, benar-benar menangis.

Tidak tahu apa yang tengah terjadi padaku, tapi rasanya pikiranku tidak bisa berpikir jernih. Otakku tampak seperti dipengaruhi oleh awan-awan hitam yang memperburuk suasana otakku, hingga ia memberi respon pada hatiku untuk menangis.

Jika kalian berpikir aku menangis karena ulang tahun yang kuharapkan tidak sebaik dengan yang kubayangkan, kalian salah. Justru aku salah satu orang yang melupakan hari ulang tahunku, tepat sehari sebelumnya.

Kemarin, rasanya banyak sekali hal yang datang bersamaan di saat kondisiku sedang kurang baik. Aku dapat merasakan tubuhku yang agak melemah, lelah, merujuk untuk diistirahatkan. Namun, di saat yang sama, aku merasakan pikiranku bepergian secara terpisah ke berbagai arah. Ketika hal itu terjadi, rasanya semua hal yang ada menubrukku secara bersamaan hingga aku tidak tahu cara untuk menghadapinya. Lalu, apa yang kulakukan? Tentu saja, apalagi kalau bukan menangis?

Aku tahu, banyak orang yang pernah mengalami hal seperti ini. Sebenarnya, aku sama sekali tidak menyesali perbuatanku menangis semalaman hingga mataku bengkak dan flu yang semakin menjadi, namun aku sangat kesal ketika hal tersebut kulakukan berdekatan atau bahkan bertepatan dengan hari ulang tahunku. I just feel so unworthy.

Tapi, memang, sih, setelahnya aku merasakan kelegaan yang tiada tara. Aku bisa tidur nyenyak, beban di pikiranku berkurang, dan tubuhku bisa beristirahat dengan tenang.

Menangis itu memang tidak selamanya buruk, ya?

Aside

Kosong

Kita tahu bahwa sebuah kertas putih polos tanpa goresan tinta adalah kosong.

Kita tahu bahwa sebuah kotak tanpa isi adalah kosong.

Kita tahu bahwa sebuah rumah yang tidak menyimpan perabotan adalah kosong.

Tapi, apakah berarti kosong itu tidak ada artinya?

Kurasa semua orang memiliki jawaban yang berbeda-beda antara ‘ya’, ‘tidak’, atau bahkan ‘bisa jadi’.

Dan kurasa ada beberapa orang yang memilih untuk tidak menjawabnya, entah karena mereka tidak tahu jawabannya, ataupun ragu akan jawaban masing-masing.

 

Jika kalian tanya pendapatku,

Kurasa kosong memiliki arti yang tidak semua orang bisa melihatnya.

Kurasa, semua hal yang hadir di dunia ini memiliki arti. Mereka mempunyai maksud dan alasan mereka bisa hadir di muka bumi, memberikan manfaat maupun kerugian bagi lingkungan sekitarnya. Tergantung bagaimana cara kita memandang dan menyikapinya.

Entah apa artinya, jika kalian bertanya, aku belum bisa menjawab.

 

Namun jika aku menjadi kalian, tentunya aku juga penasaran.

Dan aku menolak untuk menjawabnya sendiri tanpa mendengar pendapat orang lain.

Jadi menurut kalian, apakah kosong memiliki arti?

Kata Pertama

Entah sudah berapa kali aku menulis di blog—bukan blog ini yang aku maksud, tentunya—tapi entah kenapa aku selalu dibingungkan dengan kata pertama yang harus aku pakai sebagai sambutan dalam sebuah post. Entah sudah berapa kali juga aku memusingkan hal ini dalam setiap postinganku. Sayangnya, kali ini aku kembali dipusingkan olehnya.

Pernah tidak, sih, kalian pikirkan? Pernah tidak, kalian mempunyai pikiran yang sama sepertiku? Karena menurutku, kata pertama yang muncul dan akan terbaca itu penting. Tidak sembarang kata bisa dimasukkan dan bisa cocok untuk digunakan. Kata pertama sebagai first impression—setidaknya itulah yang aku pikirkan. Jika first impression saja sudah rendah, bagaimana sebuah postingan dapat dibaca hingga akhir kata? Bagaimana postingan tersebut dapat dibaca, dikenal, dikagumi, bahkan dicintai oleh pembacanya? Useless. Lalu, untuk apa kita menulis panjang lebar, namun tidak ada yang membaca?

Ah, sudahlah. Pikiranku terlalu jauh untuk dibahas, dan akan sangat memusingkan.

Sejujurnya, banyak—bahkan sangat banyak—kata yang berkelebat di benakku, menyerangku tanpa henti. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menuangkannya. Entah kenapa, aku tidak bisa memasukkan mereka ke sini. Dan entah kenapa, aku enggan memasukkan mereka ke dalam sini.

Sejujurnya lagi, kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali, dua kali, atau bahkan tiga kali. Kejadian ini sudah terlalu sering terjadi hingga aku sendiri tidak dapat menghitungnya.

Mungkin, hal itulah yang membuatku meninggalkan dunia ini selama bertahun-tahun? Dunia yang kata orang-orang tidak semua bisa menikmatinya, tidak semua bisa merasakannya, dan tidak semua bisa melakukannya. Bahkan, menurut mereka, sulit sekali menemukan kata-kata untuk menggambarkan apa yang ada dalam benak mereka. Karena itu pun, sulit sekali menemukan orang-orang yang sangat menekuni bidang ini.

Well, walau pada kenyataannya tidak sesulit yang dibayangkan, sih. Lihat saja, ada berapa banyak blog yang dibuat dalam satu hari di dunia ini? Atau- ada berapa banyak buku yang dijual dalam sebuah toko buku? Bukankah tiap buku yang berbeda itu memiliki penulis yang berbeda pula? Kalau begitu, ada banyak orang-orang yang sangat menekuni bidang ini.

Jangan pandang terlalu jauh. Di sekelilingku pun banyak, banyak sekali.

Dan dulu aku merasa bahwa aku adalah satu diantara orang-orang tersebut.

Namun sekarang, tidak. Walau aku kembali memimpikannya.

Dan karena itulah, aku kembali menulis. Di sini. Di blog ini. Di blog usang ini.

Entah kapan terakhir kali aku membuka blog ini. Tapi tentunya, aku tidak menyesali perbuatanku. Aku tidak membutuhkan alasan mengapa dulu aku membuat blog ini, dan mengapa akhirnya aku diamkan dia selama beberapa tahun.

Walaupun aku yakin, semuanya memiliki alasan.

Namun, kali ini aku tidak membutuhkannya.

Karena aku akan membiarkannya, dan akan kembali menuntun diriku.

Karena kurasa, aku sudah menemukan jawabannya.

Bahwa aku, diperintahkan untuk kembali menulis.

Seperti dulu.